Calon untukmu

Handphone yang sejak tadi bersarang disaku jaketku lagi-lagi bergetar tanda ada telfon masuk dari seseorang. Aku sudah bisa menebaknya, suasana rumahku masih riuh oleh sanak keluarga yang sudah beberapa hari menginap disini. Aku keluar dari lingkaran obrolan itu lalu berlalu ke kamar. Handphone ku kembali bergetar.

“Apa?” jawabku setelah mengangkat telfon masuk itu.

“Kamu sehat?” tanya suara diujung telfon sana.

“Sehat. Gausah telfon-telfon dulu ya”

“Aku khawatir” segera aku matikan telfon dari Gilang. Tidak terasa mataku panas lagi, entah sudah yang keberapa kalinya air mataku terjatuh hari ini. Aku berlari keatas kasur, aku tumpahkan tangis untuk kesekian kalinya. Obrolan antara aku dan ibu kembali berputar dikepalaku, aku masih ingat setiap ucapan yang keluar dari bibir wanita paruh baya itu. Semakin deras air mataku membasahi bantal, hingga tidak sadar aku tertidur.
**
Pagi ini hari pertama setelah kepergian Ibu aku berangkat lagi ke kantor. Hari ini ayah mengantarku, katanya rindu mengantarkanku ke sekolah seperti dulu. Diperjalanan Ayah hanya diam, begitu juga dengan aku. kami sibuk dengan fikiran masing-masing hingga mobil berhenti tepat didepan lobi kantorku. 

“Pulangnya mau ayah jemput?”

“Ga usah yah, aku pulang sendiri aja” jawabku sambil tersenyum. Kuraih tangan Ayah untuk menciumnya. Entah mengapa dadaku kembali sesak usai mencium punggung tangan Ayah. Rasanya akhir-akhir ini aku melankolis sekali. Banyak diam melamun, sering tiba-tiba haru lalu menangis. Benar saja, setelah kututup pintu mobil, bulir hangat itu jatuh dari pelupuk mataku. Segera aku hapus lalu masuk kedalam kantor.

Sejak kepergian ibu seminggu lalu, banyak sekali hal yang tiba-tiba membuat aku merasa berdosa, banyak sekali hal yang tiba-tiba menghantui fikiranku lalu mengacaukan suasana hatiku seharian dan begitu seterusnya hingga hari ini. Andai hari itu aku tau bahwa itu adalah hari terakhir aku akan berjumpa dengan ibu. Akan aku iyakan semua perkataanya. “Ibu maafkan aku” lirihku dalam hati.

Aku merasa asing dengan suasana kantor hari ini, mungkin sebab sudah seminggu aku tidak dikantor. Padahal nampaknya seluruh penghuni kantor hangat sekali kepadaku yang baru saja ditimpa musibah. Tidak ada satupun yang bertanya perihal ibu, semuanya seolah sepakat untuk memberi hawa positif padaku. Ini adalah salah satu alasan aku tetap bertahan bekerja dikantor ini, meski beberapa kali teman kampus menawarkan untuk bergabung dalam proyek yang sedang mereka garap. Aku sudah merasa nyaman disini, sudah merasa menemukan keluarga baru, terlebih sebab ada seseorang yang selalu mensupport setiap kali aku mengeluh dan merasa lelah. Dia Gilang. Yang sejak semalam belum aku buka chatnya, yang sejak beberapa hari lalu tidak aku angkat telfonnya. 

     Mengenal Gilang adalah suatu hal yang menyenangkan bagiku, bahkan hingga detik ini. Entah mengapa rasanya ia selalu ada setiap kali aku butuh, bahkan pada beberapa kondisi aku tidak mencarinya saat ada masalah ia akan datang mengulurkan bantuan, menjadi pendengar yang baik dan membantu meringankan setiap masalah-masalah yang aku hadapi dengan berbagai cara unik yang dia punya. Sudah hampir dua tahun aku dan Gilang menjalani hubungan yang aku tidak tau harus menyebutnya dengan apa. Dia bukan kekasihku, meski seisi kantor mengatakannya begitu. Gilang tidak pernah menyodorkanku dengan pilihan untuk menjadi pacarnya, sebab ia tau aku tidak diizinkan pacaran oleh kedua orang tuaku. Bahkan sebenarnya, dekat dengan Gilangpun salah dimata Ayah dan Ibu. Hingga beberapa kali ia pernah memaksa untuk bermain kerumah, tapi aku larang. Sampai sebulan lalu sebelum ibu meninggal Gilang benar-benar datang kerumahku tanpa sepengetahuanku. Sebelum Gilang mengenalkan dirinya, Ibu dan Ayah sudah tau tentang dia, meski belum pernah bertemu sama sekali. Beberapa teman perempuanku pernah menceritakannya saat main kerumah, meski berkali-kali aku bantah mereka yang mengatakan Gilang adalah pacarku. Sejak saat itu Ibu dan Ayah sudah wanti-wanti perihal kedekatan aku dan Gilang. Saat Gilang datang sebulan lalu, aku tidak pernah menyangka bahwa ia menyampaikan isi hatinya pada Ayah dan Ibu, Gilang menyukaiku dan meminta pendapat Ayah dan Ibu jika mengizinkan, ia ingin menikah denganku. Wanita mana yang tidak berdesir hatinya saat tau bahwa seorang yang ia suka benar-benar datang untuk memintanya menjadi teman hidup pada orang tuanya?. Sungguh saat aku tau Gilang menyampaikan itu pada Ayah dan Ibu aku bahagia bukan main. Waktu aku tanya “kenapa Aku?” Gilang bilang “Aku gak punya alasan lain untuk ga milih kamu”. 

     Gilang adalah seorang yang memiliki jiwa seni tinggi, kadang cara berpakaiannya memang mengherankan dan tidak mencerminkan Gilang yang sesungguhnya. Dia memiliki sosial yang kelewatan parah, dimanapun Gilang bermukim, radius 500 meter dari tempatnya orang-orang pasti akan kenal dengan Gilang. Mudah sekali bergaul dengan banyak orang, suka bercerita dan menghibur. Gilang salah satu orang yang bisa membangkitkan selera humor orang-orang sekantor saat sedang sibuk-sibuknya dengan pekerjaan. Ada-ada saja tinngkahnya. Dia berposisi sebagai bagian kreatif dikantor, lebih sering dapat tugas keluar kota untuk tugas lapangan. Dan sifat sosial dan humornya ini yang membuat aku nyaman untuk dekat dengan Gilang. Aku merasa Gilang adalah teman yang benar-benar bisa disebut teman, sekalipun ekstrofetnya parah sekali. Ia bisa memposisikan diri jika harus serius. Aku suka dia sejak setahun lalu. Ada benarnya, cinta bisa hadir sebab seringnya dua anak manusia berjumpa. Saat aku merasa ada rasa yang lebih untuk Gilang, aku lebih baerhati-hati meladeni gombalan-gombalannya. Sebab aku tau, Gilang memang sangat suka bercanda, mungkin diluar sana tidak hanya aku yang sering ia gombali. 

Setelah akhirnya aku tau isi hati Gilang, setelah ia menemui orang tuaku. Sejujurnya aku sedikit kaku jika bertemu dengannya. Meskipun ia biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa antara aku dan dia. Meski beberapa kali ia menanyakan perihal menikah jika sedang berdua denganku “Bagaimana diskusi dengan orang tuamu?”

**

“Menikah itu bukan perihal cinta saja Lin, banyak hal tidak enak yang akan kamu lalui dalam sebuah pernikahan. Ibu tidak melarang kamu menikah. Tapi ibu inginnya punya menantu yang bisa jadi imam. Buat kamu, buat cucu-cucu ibu. Ibu pingin punya menantu yang bisa bawa kamu dan keluarga kamu ke surga Nya. Bukan hanya seorang yang bisa nafkahi dan bahagiain kamu didunia. Lin, perkara menikah itu perkara akhirat. Menurut ibu, suami itu harus punya kapasitas agama yang baik. Agar bisa menjadi teladan, agar bisa membimbing”

“Dia memang bukan lulusan pesantren bu, mungkin solatnya memang masih suka bolong-bolong, tapi dia punya keinginan buat jadi baik”

“Dia ngerokok kan?” aku diam mendengar pertanyaan itu.

“Gak pernah didekatku” 

“Linda, apa kamu mau dalam keluargamu nanti malah kamu yang membimbing keluargamu untuk dekat ke Allah? PR kamu bakal lebih besar lagi untuk menciptakan keluarga yang Shalih. Tujuan kamu untuk menikah itu apa? Coba difikirkan dulu nak. Hubungan dia sama keluarganya bagaimana? Terutama pada ibunya. Anak laki-laki itu bisa menjadi suami yang baik, jika ia baik pada ibunya.” Aku lagi-lagi diam mendengar nasihat ibu. Sesak dadaku rasanya. Aku tidak punya alasan untuk menolak Gilang setelah dua tahun mengenalnya, aku tau dia orang baik. Tapi perihal keluarga. Gilang memang memiliki hubungan yang kurang baik dengan keluarganya, terutama ibu tirinya. Ibu kandung Gilang sudah meninggal saat ia duduk diangku SMP, lalu Ayahnya menikah lagi dengan seorang rekan kerjanya. Menurut Gilang, Ibu Tirinya itu jahat dan baik hanya dengan Ayah dan anak-anak kandungnya. Hingga saat SMA Gilang memilih untuk ngekost sampai saat ini.

“Bu, Ibu kandung Gilang itu sudah meninggal, aku rasa wajar jika ia tidak akrab dengan ibu tirinya” jawabku pelan.

“Perlakuan membeda-bedakan orang itu tidak baik nak, gimana kalo nanti dia sukanya sama kamu aja? sama ibu engga? Gimana kalau keluarganya tidak merestui dia menikah dengan kamu? Dia belum bilang apa-apa kan ke orang tuanya?” perbincangan tentang Gilang selalu tidak menemukan ujung. Aku selalu mengakhiri dengan kata “Ribet ya nikah ini” Aku tau Ibu dan Ayah ingin aku menikah dengan seorang yang ilmu agamanya baik, dengan orang yang memiliki hubungan keluarga baik. Gilang? Jauh sekali dari kata baik menurut pandangan Ibu dan Ayah sebab Gilang bukan tipe orang yang suka main kemasjid, bukan orang yang agamis, bukan orang yang dekat dengan hal berbau keagamaan. Tapi aku bisa pastikan dia baik dalam bersosial dan punya kemauan belajar yang tinggi.

**
Aku matikan komputer kantor yang sudah seharian menyala, lalu mengemas barang-barang untuk dibawa pulang. Kantor ini sudah sepi sejak satu jam yang lalu, hanya tinggal beberapa orang yang tersisa, orang-orang yang memilih lembur untuk menyelesaikan tugasnya. 

“Lin,” seseorang memanggil menghentikan langkahku, aku menoleh ke belakang. “Kamu seharian off ya apa gapunya kuota?” aku hanya tersenyum menunggu ia sampai tepat didekatku.

“tugasku numpuk, takut ga selese kalo Hp nyala”

“wah keren kamu, hal-hal kaya gitu cuma bisa dilakukan oleh orang profesional loh”

“haha udah ah pulang yuk” Aku kembali melanjutkan langkah menuruni tangga. Gilang berjalan disebelahku sambil bercerita kesibukannya seharian ini. Baru tiba dari Bandung sore ini dan mengantar laporan perjalanan sebelum pulang ke kost katanya. 

“Aku mau cerita Lin” tiba-tiba Gilang menghentikan langkahnya.

“kamu dari tadikan cerita lang”

“iya eh, tapi ini serius. Aku laper. Kita makan dulu. Nanti aku cerita”

“udah malem”

“Aku antar sampe gerbang perumahan. Tenang aja. kalo boleh samapi depan rumah. Kalo boleh. Yuk nanti kemalaman” Gilang berjalan duluan, sedikit berlari menuju parkiran motor. lalu berhenti tepat didepanku. Aku masih diam tanpa ekspresi menatapnya. “Lin” akhirnya aku naik juga. Kami berhenti disebuah Rumah Makan sederhana tidak jauh dari kantor. Sepanjang makan Gilang kembali bercerita tentang tugas lapangannya beberapa hari itu, dia juga cerita apa saja yang terjadi dikantor selama aku tidak masuk. “Eh Lin, aku belum solat Magrib tau” aku mengerutkan kening sambil melotot, kulihat jam yang mengantung di dinding rumah makan. Waktu Magrib akan berganti 10 menit lagi. 

“Loh, ko belum? Bukannya tadi dikantor. Solat disini dulu gih”

“Udah mepet, ga enak ah masa solat dirumah makan. Solat tuh di masjid. Kan laki. Kita ke Masjid dulu ya” Gilang nyengir lalu berlalu ke kasir untuk membayar makan dan memberi isyarat kepadaku untuk segera keluar. Tidak jauh dari Rumah Makan itu Gilang membelokan motornya ke sebuah Masjid yang cukup besar dikawasan Pasar Minggu. Tepat saat kami menaiki tangga azan Isya berkumandang. Aku menoleh kearah Gilang yang cengengesan “Di Qhodo, Allahkan maha baik” ucapnya pelan. Aku geleng-geleng melihat tingkahnya.

Aku duduk dibangku taman Masjid merapikan sepatu yang hanya aku pakai asal-asalan, orang-orang masih ramai bergantian keluar dari Masjid. Gilang belum tampak dikerumunan orang-orang itu. Aku rogoh HP dari dalam tas, HP yang sejak pagi tidak sengaja tidak aku aktifkan. Beruntun-runtun getar pesan masuk, beberapa kali panggilan tak terjawab dari gilang. Dua panggilan tak terjawab dari ayah. Panggilan 10 Menit yang lalu. Segera aku hubungi Ayah.

“Asalamualaikum, dimana lin?” Sergah suara diujung telfon itu saat sudah tersambung.

“Waalaikumsalam, lagi di Masjid abis isya. Ini udah jalan mau pulang yah, tadi sedikit lembur” jawabku menjelaskan tanpa perlu ditanya, Ayah pasti khawatir.

“iya, hati-hati ya, Asalamu’alaikum” Ayah memutuskan telfon. Dihadapanku sudah berdiri Gilang sambil merapikan lengan jaket jeansnya. 

“Ayah ya?” aku mengangguk menjawab pertanyaan Gilang. “nih, aku bneran mau cerita” Gilang duduk dibangku satunya lagi beberapa meter dariku. “Perihal menikah. Sudah aku sampaikan ke mama dan papa. Mereka menyerahkan semua keputusan kepadaku. Singkatnya, dari keluargaku. Insyaallah menerima siapapun yang akan aku pilih. Perihal waktu, jika kamu mau dan Ayah mengizinkan, aku akan usahakan secepatnya. Sebulan lagi, seminggu atau besok aku siap Lin. Setelah ibu kamu ga ada, aku rasa kamu butuh seseorang untuk menggantikan posisinya. Aku tau, mungkina aku ga baik dimata ibu sama ayah. Terutama perihal agama, aku ngerokok, masih sesekali ke nongkrog malem. Aku udah coba kurangi semuanya, udah dua minggu belakangan aku usaha buat solat 5waktu Lin” Gilang menghela nafas panjang dan kembali melanjutkan ceritanya “Aku udah fikirkan kesiapan menikah ini cukup lama, dari semua teman-teman wanitaku entah kenapa hatiku memilih kamu. Mungkin mencintai kamu adalah cara tuhan agar aku bisa dekat denganNya. Maaf lin, mungkin kamu masih terguncang atas kepergian ibu, aku malah ngomongin masalah ini. Waktu kamu ga ada kabar seminggu setelah ibu meninggal, aku benar-benar khawatir. Aku mau datang takut salah dimata Ayah, aku ga tau harus gimana bisa selalu ada buat kamu, bisa jagain kamu selain dengan menikah. Secepatnya.” Lagi-lagi sifat melankolisku kambuh, air hangat dipelupuk mataku sudah tak terbendung lagi, mengalir perlahan dikedua pipiku. “Maaf, aku gak maksa kamu. Karna sampai sekarang aku ga tau apa yang kamu rasain tentang aku. sekali lagi maaf. Maaf merusak suasana hatimu” aku tegakkan kepala, sambil mengusap mata yang masih basah.

“Makasih udah cerita, antar aku pulang yuk” aku bangkit dari duduk, diikuti Gilang. Selama perjalan pulang aku hanya diam, Gilang juga. Langit malam ini terang sekali tapi tidak ada bintang dan cahaya bulan disana. Seolah mewakilkan perasaanku, senang tapi tidak bahagia. Bagaimana aku harus menyampaikannya.

**
     Ayah bilang mau merapikan kamar, merapikan barang-barang ibu yang sudah tidak terpakai, jika masih layak mau dikasih ke orang. Hari itu aku sengaja tidak berangkat ke kantor, setelah ibu meninggal. Rasananya aku ingin selalu ada didekat Ayah. Ingin menjadi tepat ayah berkeluh, dua adikku masih terlalu kecil untuk mengerti persoalan keluarga. Ayah memang sudah tidak bekerja lagi, sehari-hari kerjanya berada ditoko, membantu-bantu karyawannya yang bekerja. Tapi ayah lebih sering berada dirumah, sesekali ia mengisi pengajiian ibu-ibu dibeberapa kelurahan sekitar rumah.

Ayah dan Ibu adalah tokoh didaerah tempatku tinggal, sebab Ibu adalah anak dari seorang guru mengaji yang sangat dihormati. Dulu Ayah adalah murid dari kakekku, dari sanalah akhirnya Ayah dan Ibu bisa menikah. Lebih tepatnya dijodohkan oleh kakek. Hingga saat ini Ayah masih rutin melanjutkan dakwah kakek, mengajar ngaji beberapa anak tetangga setiap sore dan mengisi kajian ibu-ibu perumahan.

Aku mulai membantu ayah membongkar lemari pakaian, memilah satu persatu pakaian yang masih layak dan tidak. Mengumpulkanya menjadi satu kedalam kardus. Sudah hampir seharian aku dan ayah mengobrak abrik kamar, mulai dari lemari pakaian, rak-rak dan lemari-lemari lainnya tanpa banyak bicara, aku hanya sekali-kali bertanya pada ayah tentang barang yang mau aku sortir. Ayahku memang tipe seorang introfet, tidak banyak bicara jika tidak ditanya. Berbeda dengan ibu yang selalu menyampaikan pandangan meski tanpa diminta. Mungkin sudah naluriahnya seorang ibu begitu, lebih banyak bicara, tidak seperti sosok ayah.

“Huuhhh Selesaiiii” ucapku lega setelah habis merapikan pakaian-pakaian dan printilan milik ibu. Ayah sedang sibuk dengan kertas-kertas dari lemari kecil disebelah kasur. Aku datang menghampiri ayah, melihat apa yang ia kerjakan. 

“Bagaimana hubungan mu dengan Gilang?” tanya ayah tiba-tiba. Aku kaget mendengarnya. Kufikir, mungkin sudah saatnya hal ini dibahas, diputuskan, atau mungkin diselesaikan. Aku menarik nafas panjang. Lalu duduk bersandar pada sisi tempat tidur, tidak jauh dari posisi ayah duduk.

“Aku sama Gilang masih seperti dulu yah, berteman” ayah mengangguk-angguk mendengar jawabanku. Namun tidak merespon lagi. “Aku belum dengar pendapat ayah tentang Gilang setelah dia datang kerumah” aku mencoba memulai pembahasan.

“Ayah sudah dengar tentang Gilang dari Ibu, dari teman-teman mu. Ayah rasa ibu sudah menyampaikan pandangannya kan? Gilang anak yang berani ya” Ayah membetulkan letak kacamatanya yang hampir melorot sebab terlalu lama menunduk membaca kertas-kertas yang ada dipangkuannya. “Dulu waktu ayah menikah dengan ibu, ayah dan ibu merencanakan sebuah misi besar dalam keluarga kita. Keluarga kita yang kamu termasuk didalamnya. Misi besar Ayah dan Ibu adalah bersama-sama bisa bertemu lagi di surga Nya. Ayah berterimakasih sekali lin, sebab kamu bisa menjaga diri dari pacaran. Sampai detik ini, ayah masih tertatih untuk mengumpulkan alasan sebanyak-banyaknya agar kita bisa ketemu lagi nanti si surga. Ayah mau mengumpulkan sebab-sebab keberkahan dalam rumah kita. Itu salah satu alasn ayah dan ibu memasukan kamu dan adik-adik mu ke pesantren. Agar kita semua bisa sama-sama saling nasihat-menasihati jika ada yang salah dalam keluarga ini. Kalau kamu tanya ayah ingin kamu menikah dengan orang yang seperti apa, ayah ingin kamu menikah dengan seorang yang solih, Alhamdulillahnya jika seorang penghafal qur’an. Tapi, bagi ayah kebahagiaan kamu didunia juga penting. Ayah tidak mau memaksakan kamu menikah dengan siapapun. Ayah mau kamu bahagia dalam pernikahanmu. Kamu sudah dewasa Lin, Ayah percaya kamu bisa bijak dalam mengambil keputusan” hari ini adalah pertama kalinya aku dan ayah bicara seserius ini, pertama kalinya ayah bicara panjang menceritakan isi hatinya.

“Linda juga mau Ayah sama Ibu Bahagia” perlahan airmataku jatuh lagi. “Maafin Linda ya yah” Ayah berbalik badan menghadap kearahku. Lalu menyodorkan sebuah buku.

“Ini, buku harian Ibumu” Aku ambil buku itu. Lalu membuka secara acak isinya. Baru sepertiga buku yang ditulis. “mungkin ada ilmu rumah tangga yang bisa kamu dapat dari sana, disimpan ya” aku mengangguk “sebentar lagi Ashar, Ayah mau siap-siap ke Masjid”

**
      Selepas Solat Isya Aku duduk dibangku panjang depan rumah. Menyalakan data internet yang aku matikan seharian. Ku buka satu-satu pesan yang masuk, salah satunya dari Gilang. “Kenapa gak ngantor? Kamu sakit? Lin? Aku punya sesuatu yang mau dikasih nih. Dateng kerumah boleh gak? Lin nanti kalo udah sehat bales chat aku. Jangan kebanyakan mikir. Nanti kamu lebih pintar dari aku terus aku kagok deket kamu. Tapi kalo mikirnya mikirin aku boleh. Jangan bilang rindu ya, nanti aku bisa tiba-tiba didepan rumah kamu” pesan-pesan itu berentetan masuk. Dikirim di jam yang berbeda dari pagi-siang-malam. “Alhamdulillah, udah sehat. Jadi kamu ngapain seharian?” pesan dari Gilang masuk lagi saat aku masih menatap ruang obrolan kami.

“Aku sehat kok, abis rapihin barang-barang ibu seharian”

“Alhamdulillah, hati kamu sehat?”

“Apa sih lang”

“Aku punya sesuatu nih buat kamu. Sesuatu kesukaan kamu. Tadi sih, karna kamu gaada aku makan. Besok ngantor ga? Aku mau punya sesuatu lagi buat kamu”

“Cheescake kan? haha iya InsyaAllah ngantor”

“Ihh kok kita udah sehati ya sekarang. Kamu tau aja aku bakal ngasih cheescake. jadi malu. Udah ya istirahat. Pasti cape abis beres-beres, sampai ketemu besok”

**
     Buku itu mulai ditulis sejak 1 tahun lalu, tepatnya pada 2 Desember 2017. Ibu bercrita banyak hal tentang apa yang ia lakoni sehari-hari, tentang aku dan adik-adikku, dalam buku itu bahasa yang ibu gunakan seolah dia sedang bersurat dengan seseorang, sedang berkomunikasi. Setiap pertanyaan yang ia tulis, ia jawab sendiri. Setiap narasi keluhan yang ia tuliskan ia nasihati sendiri. Aku baru tau, ternyata ibu sering jenuh berada dirumah dengan aktifitas bersih-bersih setiap harinya. Dalam beberapa lembar ibu bercerita rindu dengan masa-masa remajanya yang sering bertualang, kata ibu rindu itu bumbu kehidupan, tidak semua rindu harus berujung temu dan menjadi nyata seperti yang kita inginkan. Ya, seperti rindu masa lalu contohnya, aku baru sadar memang setelah aku besar ibu tidak pernah sekalipun menuntut hak untuk jalan-jalan, kecuali jika anak-anak yang mengajaknya. Seingatku, ibu adalah orang yang paling tidak banyak permintaan tentang harus kesini atau kesitu, padahal dimasa mudanya, ibu adalah anak kakek yang paling tidak bisa diam dirumah. Lembaran-lembaran buku harian itu aku buka perlahan aku baca satu persatu. Disana ibu juga tuliskan, katanya aku sedang dekat dengan seorang laki-laki, ibu berharap aku tidak pacaran. Ada banyak kekhawatiran-kekhawatiran yang ibu tulis, lalu semua tulisannya ia tutup dengan harapan dan doa. Pada lembaran-lembaran akhir ibu mengeluhkan kondisi fisiknya yang tidak seperti biasanya, sering tiba-tiba pusing dan pandangannya kabur. Di kehidupan nyata ibu tidak sekalipun pernah mengeluh tentang kesehatanya, setiap pagi selalu bangun paling awal, membangunkan ku, membuat sarapan, mencuci pakaian, bebersih rumah dan setauku ibu masih rutin mengikuti kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, bahkan sehari sebelum meninggal ibu membantu tetanggaku masak-masak untuk aqiqah anaknya. Sampailah aku dicatatan terakhir, mataku menyipit dibuatnya. aku eja kalimat demi kalimat yang ibu rangkai perlahan, air mataku kembali berjatuhan, mataku panas dadaku sesak. Aku merasa menjadi anak paling berdosa. Maaf bu, aku berkali-kali menyakiti hatimu.


9, Desember 2018 | Calon Untukmu
     Aku tau sikapku salah, memaksamu untuk tidak menikah dengan seorang yang kamu cintai. Maafkan ibu nak. Jauh sebelum kamu mengenal Gilang, kesalahan ini ada pada ibu. Ibu yang tidak bisa mendidik kamu untuk jangan dekat-dekat dengan laki-laki. Ibu yang tidak bisa menjadi teman bercerita yang baik sehingga kamu harus menemukan teman cerita diluar sana, teman cerita yang lebih menyenangkan dari ibu. Maafkan ibu nak. Demi Allah ibu sama sekali tidak ingin membuatmu bersedih sebab harus menolak seorang yang kamu cintai. Tapi jauh sebelum kamu berfikir untuk memiliki keluarga, ibu dan ayah punya mimpi untuk keluarga kita. Mimpi sama-sama bisa bertemu lagi dan menjadi keluarga kelak di surga. Ibu hanya ingin jika kamu berkeluarga, kamu juga punya pasangan dengan tujaun yang sama dengan keluarga kita. Ibu tidak berhak memaksamu untuk jangan menikah, kelak kehidupan keluargamu adalah milik mu, kamu akan menjadi hak suami mu, ibu hanyalah orang asing yang kalian kunjungi jika ada waktu. Jika nanti ibu tua, ibu takut jarang melihat kamu sebab tidak ada suami yang mengingatkanmu untuk pulang menemui ibu.Linda, berat rasanya jika harus melepasmu menikah dengan lelaki yang pemahaman agama dan ibadahnya jauh dari kapasitasmu. Tapi jika kamu bisa memastikan kamu dan keluargamu nanti akan baik-baik saja, kalian akan berproses untuk menjadi dua manusia yang dicintai Allah. Menikahlah nak, kebahagiaan mu lebih penting dari apa yang ibu khawatirkan. Ibu akan lebih merasa bersalah lagi jika kamu harus menikah dengan calon pilihan ibu, lalu rumah tanggamu berantakan. Ibu tidak bisa berbuat banyak selain memberi nasihat, selain memohon pada Allah agar kamu dipertemukan dengan seorang yang baik, seorang yang bisa membimbingmu. Jikapun Gilang akhirnya menjadi pasangan hidupmu, mungkin itu sudah menjadi ketetapan Allah atas kamu Lin, maafkan ibu. Sungguh, tanggung jawab orang tua pada anaknya adalah memilihkan calon pendamping yang baik untuk menggantikan posisinya. Maaf atas tidak bertanggung jawabnya ibu, sebab kamu saudah lebih dulu menemukan calon untukmu. Ibu sayang kamu linda, maafkan ibu atas persyaratan-persyaratan yang terlontar kemarin malam, seolah ibu tidak merestui dan bahagia jika kamu menikah nanti. Maafkan ibu. 
Nafasku terengah-engah sebab tak sanggup menahan luapan amarah dalam hati ku,“Linda yang salah bu, sebab mencintai yang bukan seharusnya” lirihku dalam isak yang tak bisa kutahan. 

**

Disudut cafe favoritku, di meja tempat aku biasanya menghabiskan akhir pekan dengan menulis beberapa jurnal. Seorang yang tidak asing duduk bersandar sambil memainkan handphonenya. Aku berjalan mendekat menarik kursi disebrang pemuda itu duduk.

“udah lama?” tanya ku sambil menaruh tas di atas meja dan merapihkan posisi kursiku.

“10 menit, lumayanlah ya. Gak lama banget. Eh, aku udah pesan sesuai kesukaan kamu” aku menganguk-angguk sambil mengembangkan senyum.

“kita mau makan dulu apa diskusi?” tanyaku

“Serius amat Lid?” jawabnya meledek. “Nyambi aja ga bisa?” sambil mengerutkan kening. “Biar ga tegang-tegang amat gitu”

“Makan dulu deh, aku laper” 

“kalo laper mah harus segera. Aku jemput nih makanannya” Gilang berdiri dari duduknya hendak beranjak menuju dapur cafe.

“ihh ga usah langg” aku terkekeh dibuatnya. selang 1 menit hidangan kami datang dan langsung saja aku dan gilang menyantap menu yang sudah di hiangkan. Sepanjang makan ada saja yang Gilang ceritakan, hal-hal lucu bohongan sampai yang benaran. “Eh lang, aku mau bilang sesuatu nih” sela ku ditengah-tengah obrolan ngalor ngidul kami. Gilang tersenyum mengakhiri tawanya lalu menegakan tubuh, melipat tangan diatas meja seolah-olah anak kecil yang akan mendengarkan instuksi dari gurunya. “Aku udah fikirin tentang menikah, udah diskusi dengan orang tuaku” Gilang semakin serius mendengarkan “Aku” mulutku kaku rasanya, tercekat tidak mampu melanjutkan apa yang harusnya aku sampaikan. “Lang, ini bukan karna Siapa. Tapi karna, Value” aku menghirup udara panjang dan menghelahnya kasar. “Aku mau kamu berubah lang. Aku mau kamu jadi Gilang yang ga perlu di ingatin solat lagi, Gilang yang sayang sama keluarganya, Gilang yang ga ngeroko, Gilang yang akrab dengan kajian-kajian keislaman. Aku mau kamu jadi seorang yang hidup buat tuhannya, bukan buat dunia” aku diam.

“Terus?” Gilang menagih lanjutan dari bahasanku. Namun aku tetap diam. “Aku ditolak? Apa diterima?” aku tidak pernah melihat tatapannya sepilu itu, seperti kucing yang minta dielus penuh harap.

“Aku belum bisa nerima kamu sekarang. Lang, untuk menikah, orang tua ku belum punya calon untuk ku, tapi jika ada yang datang. mereka ingin calon ku sesuai dengan kriteria mereka”

“iya iya aku faham. Kita ini rasa yang tepat diwaktu yang salah. Hehh” Gilang tersenyum hambar. “Eh, apa aku terlalu kepedeean ya. Jangan-jangan kita ini rasa yang salah di waktu yang salah. Emm Lin, sebenernya kamu suka ga sih sama aku?”

“buat apa?”

“Yaa kalau aku berubah, aku mau mastiin kamu mau nungguin aku. kalo aku disela ustad-ustad soleh gimana? Buat jadi orang soleh gitu butuh proses lin. Ga bisa dalam waku satu malam, iya kan?”

“Jangan berubah karna aku lang, karena Allah” Matanya menyipit seperti berfikir keras atas apa yang barusan ia dengar. 

“Jadi kesimpulannya?” 

“Kita belum berjodoh sekarang” Gilang menghembus nafas keras menghempas punggungnya pada sandaran kursi, kecewa dengan jawaban yang baru saja keluar dari mulutku.

“Belum sekarang, jadi besok-besok kemungkinan berjodoh?” selidik Gilang lagi.

“Emm, yaa... Tergantung gimana usaha kamu” Gilang megangguk-angguk mendengar jawabanku.

“Menantang sekali ya, buat jadiin kamu teman hidup” perasaanku sudah campur aduk, entah bagaimana hubungan kami setelah ini. “Jadi sekrang kita Cuma teman aja ya”

“Teman baik” selaku. Dia terkekeh mendengarnya. “Pulang yuk” aku sudah tidak tahan lama-lama menyaksikan raut wajah kecewa Gilang. 

Sungguh aku juga merasakan sakit dan kecewa seprti yang Gilang rasa atas keputusan yang aku ambil, tapi aku percaya atas apa-apa yang aku putuskan bukan hanya perkara keinginan hatiku saja. Pasti ada campur tangan tuhan disana. Mungkin sebab aku terlalu menggantungkan harap kepada manusia, dan lupa ada Tuhan tempat harusnya segala harap bergantung.

Saat tidak ada lagi pilihan dari merelakan, hanya Allah satu-satunya penawar dari kesakitan. 

Gilang, datanglah lagi jika kamu sudah siap dengan berbenahmu. Semoga belum ada orang baik yang mendahuluimu. Maaf akhirnya aku harus menghapus dulu rasa yang terlanjur hadir diantara kita.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Calon untukmu"

Posting Komentar