Gunung Gede "Day 2"

(19 November 2018) Senin pagi bang Yogi sudah heboh saja curhat tentang dia yang dijahati oleh bang Deden dan bang Tian “Gua pikir baik amat ngasih gua posisi ditengah, biar anget. Ada batu gede ternyata. Gabisa tidur, Jaket dipake buat lilitin kaki ni bocah. Tega bener emang temen. Nyakitin semua ga ada yang nyenengin” kami tertawa mendengar ocehanya pagi-pagi itu, yang diceritain tertawa paling keras, membalas curhatannya sambil ngata-ngatain. setelah mempacking ulang barang yang akan dibawa kepuncak dan sarapan, kami memulai pendakian dengan sebelumnya berdo’a agar dimudahan dan berfoto. Kira-kira pukul 06.20 kami memulai pendakian menuju puncak gunung Gede. Diawal pendakian kami banyak diam, berkompromi dengan nafas yang saling buru karna diajak melewati trek hutan dingin dan menanjak. Beberapa menit kemudian saling dahulu-mendahului dan kembali bercanda setiap beristirahat mengambil nafas, banyak berhenti juga untuk berfoto. Kata Uncu berfoto itu salah satu hal yang bisa menghilangkan lelah saat mendaki. Hingga tibalah kami ditanjakan setan, aku jadi ingat saat sebelum sampai kandang badak bertanya dengan salah satu pendaki yang baru turun tentang tanjakan setan, kata si bapak itu “benar-benar setan itu tanjakan” ternyata cukup menantang juga treknya, pantas saja dinovel yang kubaca si tokoh terjatuh saat menaiki tanjakan ini. Tebing batu sekitar setinggi 8-10 meter dengan tali-tali yang sudah disediakan untuk mendaki. Sebenarnya jika tidak ingin melewati tanjakan ini ada jalur alternatif yang sudah disediakan, namun rasanya tidak afdol jika ke Gede tapi tidak melewati tanjakan setan. Saat kami mulai menaiki tanjakan setan, Sopang yang paling histeris dan banyak berteriak kemana dia harus kembali berpijak, aku dan yang lain banyak tertawa melihat tingkahnya, untunglah ada bang Yogi yang baik hati membantu Sopang melewati trek ini. Saat sampai diatas tanjakan senang sekali rasanya, bahkan Desi bilang “ada lagi ga tanjakannya?” wah nantangin kelakar teman-teman yang lain. 
Tanjakan Setan/Rantai


Setelah tanjakan setan trek yang kami lewati hutan rindang dengan trek tanah empuk yang memanjaklan telapak kaki setelah melewati trek batu-batu keras sebelumnya, juga akar-akar baik hati yang banyak mencuat untuk menjadi pegangan. Kurang lebih 30 menit kemudian sinar matahari mulai terlihat disela-sela pohon diujung trek, bang Yogi kembali menyemangati karna sebentar lagi kami akan sampai dibatas vegetasi. Melihat cahaya matahari keemasan disela-sela pohon itu saja sudah senang sekali rasanya. Hingga tibalah kami dipinggir kawah gunung gede, angin gunung yang tadinya berhembus dingin bengan udara sejuk yang membuat kami bergidk kini berganti menjadi angin dingin dengan kombinasi hangat matahari pagi. Aroma kawah tidak terlalu menyengat tercium, beberapa meter dari posisi kami, bendera merah putih berkibar dengan gagahnya. bang Tian bilang itu puncak gunung gede, kita harus berjalan lagi menyusuri pinggiran kawah yang indah ini ditemani hangat matahari pagi setelah semalaman diselimuti dingin lembah Kandang Badak. Puncak masih terlihat jauh dari pandangan mata, tapi pemandangan yang memanjakan mata ini menggantikan lelah kaki berjalan menuju tugu puncak Gunung Gede. Dibelakang kami berdiri gagah puncak gunung Pangrango, sesekali dilewati segerombolan awan putih. Indah sekali, jika kamu melihat hasil potret gunung Gede atau apapun pada lembar-lembar majalah atau foto-foto yang berhasil diabadikan oleh kamera, sungguh penampakan asilnya akan lebih indah dari hasil foto itu. percayalah, potret kamera buatan manusia tidak akan berhasil mengalahkan indahnya lukisan alam yang ditangkap oleh potret Mata buatan Tuhan. 

Setibanyak ditugu gunung Gede, kami duduk-duduk sambil bercerita, ngemil dan menyeduh minuman hangat. Disana ada warung yang menjual gorengan, cemilan dan minuman hangat. Cukup banyak juga pendaki yang ada disana meski tidak terlalu ramai, tapi cukup mengantri untuk berfoto bergantian ditugu Gunung Gede, mengabadikan momen langka yang tidak semua orang bisa lakukan. Setelah dirasa cukup beristirahat dan berfoto ditugu kami melanjutkan perjalanan turun menuju alun-alun surya kencana yang katanya awan-awan terasa dekat dan bisa dipanggil. Namun sayangnya bang Anto dan bang Hendri tidak ikut dalam perjalanan menuju surya kencana, mereka harus segera turun karena ada pekerjaan yang sudah menunggu, jadilah kami berpisah dipuncak gunung gede dengan dua personil. 

Perjalanan turun menuju alun-alun surya kencana memakan waktu sekitar 40 Menit untuk aku yang berjalan santai, sesekali berlari. Dalam hati, wah rekan-rekan ku yang lain sudah seperti ninja saja, cepat sekali turunnya. Aku berjalan diposisi dua dari belakang. Ipul yang berada paling belakang sudah tidak terlihat. Aku sengaja berjalan perlahan, karena dengkul kananku terasa sedikit ngilu jika dihentakan terlalu keras. Setibanya disurya kencana, Desi, Bang Tian dan Bang Yogi sudah tidak terlihat. Sopang dan Uncu berada tidak jauh dari posisiku, kami berfoto sebentar tiba-tiba terdengar Desi memanggil-manggil dari bibir hutan gemuruh. Desi sudah duduk santai dibawah pohon edelweiss. Setelah berfoto aku dan Sopang berjalan kearah mereka, bang Tian dan Yogi sudah membuka Kompor untuk memasak makan siang. setibanya disana aku diajak bang Yogi untuk mengambil air ke mata air disurken. Kata Uncu yang baru saja tiga minggu lalu ke surken mereka sampai minum air dari flaysheet karna tidak ada air bersih waktu itu. Aku baru tau ternyata maksutnya tidak ada air karna sumber airnya yang berupa kolam kotor oleh sampah para pendaki, bang Yogi berkomentar banyak melihat kejaidan itu, karna beberapa tahun lalu kolam air itu bersih sekali. Kami menyusuri aliran kolam untuk mendapatkan sumber air yang bisa diminum. Untunglah masih ada air bersih yang bisa diminum untuk memenuhi botol-botol perbekalan kami sampai kandang badak lagi. 

Alun-alun Surya Kencana merupakan tempat bermain dan ngecamp yang indah, berupa lapangan luas yang ditumbuhi pepohonan edelweiss dengan angin kencang yang sejuk meski matahari sedang terik, awan-awan putih terasa dekat bergerombolan beriringan berjalan diatas kepala kami, dikejauhan sesekali terlihat awan sejajar dengan posisi kami, diapit oleh puncak Gunung Gede dan gunung Gemuruh. Dua hari yang lalu penjaga toilet di kandang badak cerita, katanya di Surken hujan Es, wah gakepikiran gimana kejadiannya. Para pendaki yang ngecamp disini memang rata-rata mendirikan tenda dipinggiran hutan, atau ditempat-tempat yang terlindung dari angin kencang. Sembari bang Tian dan Bang Yogi masak untuk makan siang Aku, Sopang, Desi dan Uncu sibuk mendokumentasikan diri dilokasi itu, tidur-tiduran sambil bercerita banyak hal, cukup lama kami bermain. Lalu bergabung dengan Bang Tian dan Bang Yogi. saat sudah berkemas akan naik kepuncak lagi, untuk kemudian turun kelokasi camp kami dikandang badak, ada kejadian lucu yang tidak terdokumentasikan dengan sempurna. Salah satu tenda pendaki yang sedang berkemas untuk pulang terbang berputar-putar terbawa angin lalu dikejar oleh si Pendaki dan bang Tian. Komedi Gunung ucap kami bersamaan sambil tertawa, untunglah tendanya masih dapat terkejar. 


Akhirnya kami berjalan lagi setelah diskusi tentang rencana akan ngecamp lagi malam ini didekat curug atau dimana saja yang tidak terlalu jauh dari pos pemeriksaan, karna pasti akan lelah sekali jika terburu-buru turun dari puncak lalu packing dan turun lagi kebawah. 

Perjalan naik lagi kepuncak gunung gede memakan waktu cukup lama dari waktu turun ke Surya kencana, awalnya terasa sekali lelahnya, lalu kemudian kami berjalan sambil ngobrol-ngobrol tentang banyak hal, mulai dari rok celana, argopuro dan hal-hal lucu lainnya. Tidak terasa sudah tiba saja dipuncak gunung gede lagi “tuhkan, kalo sambil ngobrol gabakal berasa” kata bang Tian. Sopang yang berjalan paling awal sudah tidak terlihat disekitaran tugu. Katanya sudah berjalan duluan ke batas vegetasi menuju kandang badak. Aku berjalan paling belakang sambil mendokumentasikan puncak itu untuk yang terakhir kalinya, didepanku Uncu yang juga berjalan santai sambil mendokumentasikan Pangrango yang indah sekali dihadapan kami. Setelah tiba dibibir hutan aku dan Uncu mulai berlarian, sesekali meloncat berpegang pada akar-akar dan dahan pohon. Kakiku sudah tidak sakit saat itu, sopang dan yang lain sudah tidak kelihatan keberadaanya. Aku terpisah jauh dengan yang lain, beberapa kali berpapasan dengan pendaki lain, banyak juga anak kecil yang mendaki hari itu. Saling lari-larian berpapasan lalu berpisah, bertemu lagi diperistirahatan dan kembali berpisah lagi. hingga tibalah kami di tanjakan setan lagi. Saat sudah melewati tanjakan setan tadi kami sepakat turun lewat jalur alternatif tapi aku dan desi menawarkan untuk turun lewat tanjakan setan lagi “Sableng” kata bang Tian. Tapi akhirnya semua personil pendakian juga ikut melewati tanjakan setan. 

Beberapa pendaki berkeril mengantri turun melewati tanjakan itu, berani sekali mereka. Kita-kita yang bawa badan aja degdegser ngelewatiinya, apalagi mereka yang bawa beban berat dipungung. Setelah menunggu beberapa pendaki berkeril itu Sopang dan bang Yogi yang lebih dulu turun. Lucu sekali melihat sopang yang tidak berani melihat kebawah untuk kembali harus berpijak kemana, sampai kakinya harus ditarik dan digeser-geser oleh bang Yogi yang berada dibawah sopang. Kami tidak hentinya tertawa menonton dari atas. “Injek aja mukanya pang” teriak bang Tian. “Jangan diketawain eh, nanti kita waktu turun gimana” kata bang Tian tapi sambil tertawa juga. Iya juga ya, Tanjakan setan ini cukup memacu adrenalin untuk dilewati. 

Setelah melewati tanjakan setan, aku kembali berjalan paling akhir berposisi dibelakang Ipul. Dengkul kananku terasa sakit seperti sebelumnya didengkul kiri. Ya santai sajalah, yang penting treknya jelas. Meskipun dalam hati terbersit, “kalau dulu kamu sering duluan lari-larian ninggalin temen dibelakang, ada kalanya nanti kamu juga ditinggalin teman saat pendakian” haha kalo kata desi, “udah gak egois sama diri sendiri, sama orang lain” saat sudah terbiasa berjalan paling akhir. Ya tapi bukan berarti yang berjalan duluan itu egois juga. Intinya roda ini kan berputar, dalam pendakian ada kalanya kamu duluan lalu nanti kamu belakangan, ada kalanya kamu gak bawa beban lalu kemudian kamu yang bawa beban. Ada benarnya buku Bara yang baru saja aku selasaikan, 
Mendaki gunung itu tidak hanya menaklukan puncak gunung, tapi menaklukan gunung yang bersarang dalam diri kita, puncak kesombongan dan keangkuhan, menaklukan ke-Akuan yang sering membuat kita Egois untuk enak sendiri. 

Bagiku mendaki gunung juga tidak sekedar refreshing melampiaskan hobi, tapi belajar banyak hal. Banyak sekali. Jika kamu belum pernah mendaki, cobalah sesekali pergi mendaki. Di gunung, beberapa hal yang akan kamu tau adalah masih banyak orang baik didunia ini. Di gunung juga kamu akan belajar, tidak ada hal yang pantas kamu sombongkan atas dirimu. Kamu bisa menjadi sangat lemah, dan tidak bisa berbuat apa-apa. Di gunung juga kamu akan tau betapa hanya Allah yang pantas untuk kamu agungkan, betapa hanyak Allah tempat kamu untuk memohon dan meminta, atas Cuaca, atas kesehatan Fisik, atas Mahluk-mahluk hutan yang bisa kapan saja menyerang. Di gunung kamu akan tau betapa lemahnya kamu sebagai seorang manusia. Hal lain, kamu akan belajar dari pendaki lain, bagaimana seharusnya manusia saling tolong menolong. 


Sore itu gemuruh mulai terdengar, pertanda akan turun hujan. Ipul dan bang Deden berencana akan tetap turun sore itu karna ada agenda yang tidak bisa ditinggalkan. “kalau kita ngecamp disini lagi gimana?” tanya bang Tian setelah menimbang banyak hal, akhirnnya semua sepakat. Terlebih, aku tau rasanya turun saat hujan menguyur, tidak akan kucoba lagi. aku berkali-kali terjatuh saat itu. Berjalan diikuti derasnya aliran air dari atas gunung itu membahayakan sekali. rintik-rintik hujan mulai turun, kami membagi perbekalan untuk bang Deden dan Ipul yang akan menerjang hujan dan gelapnya malam. Bang Yogi hujan-hujanan membuat jalur air. Hujan semakin deras, satu tenda harus dibongkar untuk dibawa turun oleh Ipul. Beberapa kali tenda perempuan rembes oleh air, bang Yogi kembali keluar membenarkan posisi flaysheet “dimana lagi?” tanya bang Yogi untuk yang kesekian kali. Aku salut sekali dengan orang-orang seperti ini, benar adanya. 
Digunung banyak hal teruji, terutama pertemanan. 
Meskipun sore itu sebelum bang Deden turun, mereka bertiga cekcok hanya karna warna tas, karna hal-hal sepele, saling maki lalu tertawa lagi, aku tau itu tidak sungguhan. Desi yang baru kembali dari toilet bingung dibuatnya, “kenapa sih pada ngeGas?!” kata desi keras. “diem aja diem” maki mereka. Aku tertawa dibuatnya. Sore itu entah mengapa dingin sekali rasanya. Kupegang tangan Sopang dan Desi. Tangan mereka masih hangat. Hanya aku yang kedinginan. Akhirnya aku Sban sampai agak hangat, Ipul dan bang Deden sudah turun sejak tadi. Bang Yogi yang masih berbalut jas hujan membuat jamu-jamuan dari tolak angin, supaya hangat katanya. Disuruhnya kami semua meminum jamu buatanya. Sopang, Desi dan Uncu masak untuk makan malam sambil bercerita banyak hal. Aku mendengarkan saja dibalik SB. Ternyata hujan sore hingga malam itu membuat basah tas yang kami fungsikan menyimpan SB dan jaketku, alhasil jaketku dan SB Desi lembab dibuatnya. Masalah tidur nanti bisa difikirkan. 

Usai masak-masak dan makan kami kembali bercerita banyak hal, bang Tian bercerita tentang dia yang hipotermia saat diklat mapala dikampusnya hingga diopname beberapa hari, bang Tian juga bilang bahwa fisik wanita lebih kuat dari laki-laki, dia sudah lihat sendiri saat diklat angkatanya. Yang banyak jatuh sakit dan terserang hipo adalah lelaki, bahkan seorang teman yang sempat satu tenda dengan bang Tian saat diistirahatkan karna sakit meninggal dunia setelah bang Tian berpindah tenda. bang Yogi juga cerita tentang dia yang pernah cidera hingga terjatuh dan gak bisa berdiri ditrek turun saat digunung Ciremai. Cukup lama menunggu pendaki lain yang lewat untuk membantunya berdiri, bahkan saat itu salah seorang perempuan yang awalnya tidak membawa beban harus memikul beban juga demi menolong bang Yogi turun menuju bascamp. Bang Yogi bilang, sejak saat itu dia janji sama diri sendiri bakal nolongin siapapun yang butuh bantuan digunung. Bang yogi bilang, dialam jangan sombong, jangan sok kuat, apapun bisa terjadi. Sambil cerita berkali-kali bang Yogi mengusap matanya yang berair, karna memang kurang tidur kemarin malam. Dan banyak cerita-cerita lain yang mereka kisahkan menjelang kami tidur malam itu. Bang Yogi dan bang Tian ini teman dari orok katanya, hanya beda usia mereka lima tahun. “sambil nunggu gua lahir si Yogi ini revisi muka selama lima tahun” kelakar bang Tian. Sebenarnya mereka teman satu komplek dan satu komunitas, nama komunitasnya GMR Adventur, saat ditanya GMR singkatan apa? “Gak Mau Rugi” jawab bang Tian. Awalnya kufikir memang itu singkatanya ternyata dia hanya bercanda, GMR itu singkatan dari GeMaR. 

Malam itu setelah diguyur hujan cukup deras dan lama, suhu kandang Badak bertambah dingin, aku dan Desi yang terkena korban kebasahan hujan, berselimutkan Sbku yang dilebarkan. Berkali-kali aku terbangun untuk membenarkan posisi SB yang kami jadikan selimut. Malam itu untuk yang kedua kalinya aku mimpi saat ngecamp digunung setelah sebelumnya saat ngecamp digunung Merbabu.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Gunung Gede "Day 2""

Posting Komentar