Gunung Gede "Day 1"



(18 November 2018) Pagi harinya kami kembali berkemas, membagi rata air dan meninggalkan barang-barang yang tidak dibutuhkan dijok motor, seperti sabun yang memang tidak boleh dibawa dan beberapa helai pakaian ganti agar tidak memberatkan beban keril. Setelah sarapan, membungkus perbekalan, megurus simaksi dan berdo’a bersama untuk kelancaran pendakian, pukul 07.52 kami mulai berjalan menuju pos penjagaan. 

Jalur Cibodas ini adalah kawasan wisata yang juga menjadi akses perjalanan wisatawan menuju curug cibeureum, para pendaki yang akan naik ke gunung Gede atau Pangrango akan berbaur berjalan bersama para wisatawan yang lain. Sebenarnya, terasa aneh karna kebanyakan dari pengguna jalur itu adalah orang-orang yang ingin ke curug, hanya beberapa orang yang tampak menggunakan keril untuk mendaki, termasuk Rromboganku. Trek awal pendakian via cibodas merupakan tangga-tangga lebar dari bebatuan. Trek tangga batu ini cukup panjang, hingga setelah penjaluran yang memisahkan trek wisatawan dengan pendaki. Jalur masih didominasi oleh tangga bebatuan. Trek seperti ini membuat tidak nyaman dikaki. Diawal pendakian beberapa kali kami mengeluhkan trek batu ini yang membuat sakit telapak kaki. Tapi ya dilewati saja, mau bagaiman lagi. melewati trek seperti ini sudah menjadi konsekuensi dari alasan memilih jalur yang katanya punya banyak bonus wisata alamnya, diantaranya telaga Biru, sungai air panas dan curug Pacaweuleuh, sebelum pendakian saat akan mendaftar online aku sudah tanyakan pada teman-teman, “kita ndaki mau cari puncak atau view?” mereka bilang terserah saja. Karna kebetulan jalur putri tersisa kuota hanya untuk 3 orang jadilah Cibodas menjadi jalur satu-satunya yang bisa dipilih. Sebenarnyapun aku juga tidak begitu mengejar puncak, tapi ingin rehat, berwisata ke alam, hutan, air terjun atau apapun, Puncak benar-benar memang bonus dengan konsisi cuaca yang tidak menentu. Saat itu kufikir, jika tidak bertemu lautan awan setidaknya kita bertemu telaga biru, air panas dan air terjun dipinggir trek. 

Sepanjang perjalanan kami berdiskusi akan ngecamp dimana. Dari gambaran awal sebelum tau opsi-opsi menarik lainnya, aku memilih untuk ngecamp dikandang badak lalu pagi Senin naik ke Puncak Gede yang katanya membutuhkan waktu 2 jam. Tapi ternyata dari diskusi dengan pendaki-pendaki lain munculah opsi baru, untuk ngecamp di aklun-alun Suryakencana setelah lebih dulu harus melewati puncak Gede. Ada lagi opsi untuk doubel summit, ngecamp di kandang badak lalu langsung ke puncak Pangrango sore harinya, besok pagi ke puncak Gede dan ke sureken dan kembali lagi ke kandang badak. Awalnya opsi untuk mengunjungi 3 tempat legendaris di gede pangrano itu sangat menarik untuk dilakukan, tapi kemungkinan dua opsi itu harus tersingkir dengan keadaan fisik yang tidak memungkinkan. Sopang yang sejak awal ngetrek sudah menampakan kalau dia tidak dalam keadaan baik untuk melakukan perjalanan panjang. Bahkan sebelum mendaki dia sudah bilang, “nab, aku udah lama gak ndaki, aku belum persiapan fisik” awalnya aku fikir dia tidak akan selemah itu, karna dari kita ber5 hanya sopang yang anak mapala. Dia memutuskan ikut dalam pendakian ini karna ada Rama yang awalnya berjanji akan ikut hingga beberapa jam sebelum pendakian lalu membatalkan dan memilih turnamen. Kata Sopang, “kalau ada Rama aku ga bakal nyusahin kalian” tapi ternyata Rama malah gak jadi ikut, mungnkin Sopang keburu gak enak sama aku karna udah janji buat ikut. Saat itu aku bilang “gapapa, kita pelan-pelan, kamu bawa tas paling ringan aja” diperjalanan Sopang yang paling banyak berhenti, tanpa dikomandoi semua ikut berhenti. Sopang kuminta jalan paling awal, karna aku tau, jika lelah dalam pendakian lalu ditinggal dibelakang rasanya sedih sekali. Aku tau yang lelah itu harusnya memang ditunggu, harus disemangati. 

Hari Minggu itu kami tidak banyak berpapasan ataupun saling dulu-duluan dengan pendaki lain, karna memang biasanya kebanyakan pendaki naik di hari Sabtu dan turun di hari Minggu. Aku sengaja mengambil jadawal naik dihari Minggu dan turun dihari Senin, agar saat summit puncak Gese tidak ramai seperti pasar. Pagi menjelang siang itu adalah jam-jamnya pendaki masih berada dipuncak atau dicamp untuk berkemas turun, membuat kemungkinan bertemu pendaki lain semakin kecil. Benar saja setelah beberapa kali melewati pos pendakian dan tiba di kandang batu cukup banyak pendaki yang ngecamp disana dan berjalan turun. Saat itu kira-kira jam 12.00 kami memutuskan untuk makan siang dulu lalu melanjutkan perjalanan. Beberapa menit setelah makan kami melewati curug Pancaweuleuh yang tepat berada dipinggir trek, banyak pendaki yang ngecamp juga disana dengan dataran tanah cukup luas. Ini kali kedua aku melihat air terjun dipinggir trek setelah sebelumnya di gunung Guntur, hanya bedanya Curug ini lebih dekat, lebih indah juga dipandang ditengah-tengah hutan. Saat itu tiba-tiba saja Ipul bilang “ada dosen kita” sontak aku Desi dan sopang celingak-celinguk mencari wajah yang Ipul bilang dosen. Ternyata benar saja, pak Tauhid namanya, dosen matakuliah kewarganegaraan disemester 7. Tidak menyangka sekali akan bertemu dosen dipendakian kali ini, setelah bertegur sapa dan ngobrol sebentar akhirnya kami kembali melanjutkan perjalanan, dari informasi dosen kami, dia juga akan ngecamp dikandang badak, hanya tujuan pendakiannya ke Pangrango. Katanya sudah lama sekali tidak ke Pangrango, mau main-main sebentar. Beliau memang pernah bilang waktu perkenalan diawal semester bahwa beliau suka mendaki gunung. 

Setelah melewati Curug trek pendakian menuju kandang badak semakin menanjak, semakin melelahkan, membuat langkah-langkah kami semakin berat dan pendek. Baru berjalan beberapa langkah kemudian diam berhenti, mengambil nafas cukup lama, lalu berjalan beberapa langkah lagi, berhenti lagi. begitu seterusnya. Tidak hanya Sopang yang banyak berhenti, aku, Desi, Ipul dan Uncu juga. Berkali-kali para pendaki yang berjalan turun menyemangati kami, mengatakan kandang badak sebentar lagi, tapi bagi mereka yang berjalan naik, kata “Sebentar” itu adalah suatu hal bohong. Sebentar ada yang bilang 20 Menit lagi, setelahnya 5 menit lagi, kemudian 20 menit lagi. kami semakin banyak diam, berhenti mencari sandaran. Kebetulan personil pendakianku ini bukan orang-orang yang ramai dan heboh, bahkan Uncu dan Ipul baru saja kenal dipendakian ini. Ipul tipe anak yang senang bercanda hanya saja candaanya selalu terdengar garing. Sopang tipe anak yang Heboh jika pada orang-orang tertentu, jika tidak sesuai dengan tipe teman bergaulnya dia akan banyak diam. Desi tipe anak yang tidak terlalu humoris, suka bercerita, terkadang polos sekali, seperti contohnya dipos pemeriksaan Desi bilang bahwa kami membawa tisue basah, sebenarnya sih memang dilarang, tapi menurutku ya bawa saja. Asal sampahnya dibawa turun lagi. akhirnya tisu basah kami disita satu buah dan sisanya kami bawa naik. Uncu satu-saunya personil yang bukan dari SEBI, dia ini temanku dulu saat di Pondok, termasuk tipe anak yang mudah bergaul hanya saja tidak humoris. Bisa dibilang dalam pendakian ini yang memiliki posisi sentral adalah aku, karna menjadi penghubung dari semuanya. Namun aku tidak terlalu banyak bicara jika sedang menyusuri trek, hanya sesekali saja bercerita tentang Novel yang baru aku baca tentang gunung Gede, dan cerita-cerita lain saat kami sedang beristirahat. Ya, pokonya perjalanan pendakian kami lebih banyak didominasi dengan fikiran masing-masing. Aku dan Desi yang cukup banyak ngobrol selama mendaki terutama saat kami memilih berjalan paling belakang sambil sesekali istirahat cukup lama tiduran dibatang pohon mati dipinggir trek. Sopang adalah personil yang paling banyak diam selama perjalanan naik. Sebenarnya aku tidak enak juga melihatnya, merasa bersalah karna meminta dia ikut, meski tidak kupaksa. 

Dua orang pendaki laki-laki yang sejak dari Telaga Biru dulu-duluan dengan kami kembali berjalan beriringan lagi, mereka menyemangati kami yang sedang diam sejenak mengumpulkan tenaga, terutama Sopang yang sudah duduk bersandar lagi pada batang pohon. Mereka bercanda-canda sambil sesekali bernyanyi menawarkan bantuan do’a agar sampai ketempat camp. Salah satu hal yang menyenangkan dalam pendakian adalah ngobrol dengan pendaki lain tentang perjalanan mereka dan rencana akan ngecamp dimana, summit kapan, juga kadang tentang perkiraan cuaca, kondisi trek dan lokasi camp. Dua lelaki ini berjalan tidak jauh dari rombongan kami, yang satu membawa keril 80liter yang satu membawa daypacak, jika kami berhenti mereka juga berhenti sambil terus bercanda dan menyemangati. Sebenarnya personil si abang-abang ini 3 orang katanya, yang satu lagi tertinggal dibelakang. Aku jadi ingat seorang abang yang aku dan desi tanya kenapa sendirian, dia bilang temannya sudah didepan. Bisa jadi Abang itu orangnya, kalau kata abang yang bawa keril 80 litter, gapapa karna semua rasum ada didalam tasnya jadi dia harus sampai duluan. Dari obrolan dengan mereka, katanya mereka akan ngecamp di Surya Kencana hari ini tapi masih melihat kondisi waktu, fisik dan cuaca, jika tidak memungkinkan akan ngecamp dikandang badak. 

Setibanya dikandang badak azan ashar berkumandang dari Hpku, kami melepas penat sebantar lalu solat, Alhamdulillhnya dikandang badak sudah ada Mushola dan Toilet juga sumber Air yang cukup untuk keperluan MCK, masak dan mencuci peralatan. Keren juga ya ditempat setinggi ini ada bangunan dari semen yang berdiri, dari info penjaga toilet katanya dulu dibangun sekitaran 2005, bayaran mengangut barang bangunan 250k sekali jalan. Usai solat Ipul bilang abang-abang yang tadi menemani perjalan kami sampai kandang badak menawarkan lokasi ngecamp yang cukup landai untuk mendirikan tenda, berdekatan dengan tenda mereka. Katanya coba dicek dulu. Akhirnya aku dan Uncu pergi kesana untuk melihat kondisi lahanya. “ini lembah kita harus ada ditempat yang cukup terbuka, jangan bibawah pohon nanti dingin, jangan deket jalur air juga, khawatir hujan, disini nih bagus, nanti kita deketan tendanya biar hangat” kata si abang. Setelah ngobrol-ngobrol akhirnya aku iyakan, kami akan mendirikan tenda disana juga. Akhirnya berdrilah 4 tenda dari 3 rombongan yang berbeda. Dibawah satu atap flayshet. 

Sejak tenda didirikan 3 rombongan pendaki resmi menjadi satu. Rombonganku yang awalnya beranggotakan 5 orang bertambah menjadi 10 orang. Mereka adalah bang Tian, Bang Yogi, Bang Deden, Bang Anto dan Bang Hendri. Suasana sudah riuh sejak mendirikan tenda karna bang Yogi yang tidak henti-hentinya berkelakar dan bang tian yang selalu meladeni goyonan bang yogi. Malam itu kami bercerita tentang banyak hal, sambil masak untuk makan malam dan rencana mendaki besok.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Gunung Gede "Day 1""

Posting Komentar