Gunung Gede "Day 3"


(20 November 2018) Selasa Pagi, suasana masih gelap dan sangat dingin. Diluar terdengar ribut-ribut pendaki yang akan mendaki kepuncak. Juga terdengar suara pendaki membangunkan penghuni camp kandang badak untuk solat subuh, suaranya dekat sekali. “Asholatu kairu minanaumm” teriaknya berkali-kali, mungkin memang sengaja dia keliling kandang badak agar yang lain segera menunaikan solat subuh. Setelah agak terang aku dan Desi keluar tenda, merenggangkan otot, menjemur SB dan Tas yang kebasahan. Puncak gunung Pangrango sudah terlihat cukup jelas meski sesekali tertutup kabut. Agenda kami pagi itu adalah masak, makan, packing lalu turun. Aku dan Desi masih duduk beralaskan matras tidak jauh dari tenda, saat anggota kami masih berselimutkan SB. Aku menyelesaikan membaca Novel, Desi tilawah, sesekali kami diam memperhatikan aktifitas penghuni kandang badak pagi itu, sesekali lagi kami ngobrol. Satu jam lebih kami disana, ternyata Sopang, Uncu dan bang Tian sudah mulai masak untuk sarapan dan bekal turun. “dess... kita gapunya kecap nih mau buat nasi goreng” teriak sopang dari tenda. “Sini mba ada kecap” sahut pendaki dari tenda lain. “tapi yang ngambil harus cewek ya” bang Tian juga ikut-ikutan menyahut “ndo' kecap ndo', telur juga gak ada” Desi yang sedang duduk bersamaku tertawa dibuatnya “Ya Allah malu-maluin” sahut Desi “Ndo Desi ini gimana kecap sama telurnya” teriak bang Tian lagi. “Sini Mba ada kecap” tawa pemukiman dua tenda itu pecah. Drama gunung. Ucap aku dan Desi. Diajaknya aku untuk mengambil kecap ditenda pendaki yang menawarkan kecap itu. Setelah menerima kecap dan kembali ketenda desi mengoceh “bisa-bisanya numbalin temen” kami tertawa lagi. “ga sengaja gua, eh disautin. bener dah” kata sopang. Bang Yogi yang masih tidur terbangun dibuatnya karna kegaduhan Sopang dan bang Tian yang teriak-teriak minta Kecap dan Telur. 

Setelah selesai masak, makan dan packing, kira-kira jam 10.20 matahari sudah hampir tepat diatas kepala, panas terik sekali, kira-kira aromanya seperti setrikaan hangus, ini yang membuat sehabis mendaki orang-orang akan gosong dan terkelupas kulitnya, karna terik matahari yang sebenarnya panas, tapi terasa dingin digunung. Kami berfoto sebentar dikandang badak, lalu berjalan turun setelah azan Zuhur berkumandang dari Hpku. Dari kandang badak sampai ke Curug Pancaweuleuh kami menghabiskan waktu 30 menit, cukup singkat ketimbang perjalanan naik. Lalu 20 Menit menuju Pos sungai air panas, kami berencana akan berendam sebentar disana, suasana memang sepi tidak seperti kemarin, hanya ada dua regu mendaki termasuk regu kami, tapi sayang suh air panasnya tidak seperti yang diharapkan dikolam-kolam kecil itu. Mungkin sebab hujan semalam. Saat melewati sungai air panas, Suhu air benar-benar panas, berbeda dengan genangan air sebelumnya, yasudahlah, kami tetap melanjutkan perjalanan. Saat istirahat beberapa kali kami bercerita tentang bahasa dan suku-suku, bang Tian dan bang Yogi ini hebat sekali bisa menggunakan banyak logat bahasa daerah. Mau belajar bahasa Riau juga katanya, ada imbuhan “Nyo, lah, Do” kataku. Dipakainya imbuhan itu disembarang tempat, aku dan Uncu terbahak dibuatnya. 

Dipos rawa denok 2 kalau tidak salah, bang Yogi disengat tawon. Lalu setelahnya dia berjalan paling awal dan cukup cepat, agar tidak bengkak dan kaku duluan katanya. Diperjalanan turun Desi dan Uncu suka sekali memotong jalur, trek yang harusnya memutar, mereka pilih menerobos jalur akar-akar pohon, sesekali aku mengikuti. Tapi ternyata lebih lama sampai dibawah karna treknya menjadi lebih curam. Sopang berjalan santai dengan trekingpolnya diikuti bang Tian dibelakang. Hingga tiba di penjaluran curug ciebureum. Pos itu cukup ramai, aku baru ingat hari itu hari Selasa, hari libur bersama Maulid Nabi. Ah, pantas saja ramai sekali. 

Diperjalanan menuju pos pemeriksaan, aku sedikit khawatir jika nanti ditanya kenapa terlambat turun. Kata bang Tian, pasti maklum kok. Ternyata saat tiba dipos pemeriksaan, tidak ada yang dibaca oleh petugas, hanya merobek simaksi yang penting dan menyimpannya lalu mengembalikan sisanya padaku. Aku kembali bergabung dengan yang lain. Menyusul bang Tian dan bang Yogi yang menunggu dibelokan depan. Mereka masuk menggunakan calo, jelas tidak memegang simaksi dan tidak bisa laporan. Setibanya dibascamp, saling cerita bertukar nomor HP untuk sharing foto-foto pendakian lalu solat dan makan. Usai magrib menjelang isya kami bertolak pergi dari bascamp dan berpisah dijalan penjaluran Parung dan Sentul tempat tinggal mereka. Kira-kira pukul 10.30 kami tiba dikediaman masing-masing. Kemudian komunikasi berlanjut digrup pendakian. 

Salah satu hal yang juga menyenangkan dalam perjalanan mendaki adalah bertambahnya teman. Kata bang Tian, kita itu Pemalu (pendaki masa lalu) yang setiap selesai mendaki pasti menambah jumlah teman. Kemudian tergantung bagaimana kita, apa bisa menjaga silaturahmi atau terputus ditengah jalan. Aku belajar banyak sekali dari mereka, tentang bagai mana harusnya menjadi seorang pendaki yang baik. Terimakasih bang Tian, Bang Yogi sudah mewarnai pendakian kami kemarin.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Gunung Gede "Day 3""

Posting Komentar